Minggu, 22 Juni 2014

Safari P4GN di Gereja ST.Theresia Jombor Klaten


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, pada hari ini, 22 Juni 2014, safari P4GN yang termasuk program kerja pokok kami untuk bersosialisasi kepada masyarakat bisa terealisasi yang sebelumnya kami laksanakan program kerja ini di beberapa sekolah di Kabupaten Klaten.
Semoga kegiatan ini bermanfaat untuk semuanya demi terciptanya Indonesia Bersinar, Klaten Bersinar, Kampus Bersinar. Bersinar, Bersih dari Narkoba.
:: SAY NO TO DRUGS & FIGHT AGAINST DRUGS ::
 
 


Read more

Senin, 09 Juni 2014

Seminar Nasional "Peran Pemuda Untuk Indonesia Bersih Narkoba"


Puji Syukur kepda TUHAN Yang Maha Esa, Kegiatan Seminar Nasional dengan tema "Peran Generasi Muda Untuk Indonesia Bersih Narkoba" dengan peserta sebanyak 230 orang yang terdiri dari Pelajar, Mahasiswa, Instansi dan Masyarakat Umum.

Ucapan terima kasih kepada :
1. Universitas Widya Dharma
- Rektor ( Prof. Dr. H. Triyono, M.Si )
- Pembantu Rektor III ( Drs. Gunawan Budi Santoso, M.Hum )
2. Pembina UKM GRANAT DPR UNWIDHA KLATEN ( Drs. H. Jajang Susatya, M.Si )
3. Dpc Granat Klaten ( Joko Yunanto, S.H )
4. Granat Rayon Unwidha
5. Semua Panitia Seminar Nasional UKM GRANAT DPR UNWIDHA KLATEN Tahun 2012.
6. Narasumber dan pembicara Seminar Nasional
8. Sponsorship yang telah membantu dalam kegiatan ini :
- Polres Klaten
- Dinas Pendidikan
- Ahas
- dll
9. Pihak - pihak yang telah membantu yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
10. Seluruh Media Pers

Demikian sekilas tentang kegiatan kami tanggal 09 Juni 2014.

SALAM GRANAT!!!!!


Pers Release :


KLATEN, suaramerdeka.com - DPP Gerakan Nasional Antinakotika (Granat) mendesak pemerintah membentuk polisi khusus narkotik. Polisi khusus itu diharapkan memiliki kewenangan penuh dengan spesifikasi yang bagus.
Ketua Umum DPP Granat, Henry Yosodiningrat mengatakan polisi narkotik itu perlu dibentuk. "Polisi ini harus sadis dan kejam para peredaran narkotika," katanya, saat seminar nasional Generasi Muda Bersih Narkoba di Unwida Klaten, Senin (9/6). Seminar dihadiri seratusan mahasiswa dan pemuda.
Dikatakan Henry, polisi yang ada saat ini tidak cukup menangani kejahatan narkoba. Harus dibentuk polisi khusus dengan pendidikan khusus yang militan untuk memerangi narkotika.
Menurutnya, narkotika merupakan kejahatan luar biasa. Selama ini, kejahatan terorise dan korupsi dianggap kejahatan luar biasa. Namun sebenarnya kejahatan narkotikalah yang sangat jahat. Sebab tidak hanya merusak generasi muda tetapi menghancurkan bangsa secara sistematis.
Saat ini ada 5 juta pecandu di Indonesia. Jika 5 juta orang itu setiap hari mengeluarkan Rp 200.000 untuk narkotika maka jumlahnya bisa Rp 1 triliun.
Kerugian ini dari sisi materi belum kerusakan moral. Selaku advokad, secara pribadi dia menyayangkan ada yang bangga membela bandar narkoba. Meski bayaranya miliaran tetapi tidak sebanding dengan kerugian anak bangsa. Ibarat meminum darah bangsa sendiri dengan membela bandar narkoba.
Kasubdit Instansi Deputi Bidang Pencegahan BNN, Edhie Mulyono Msi mengatakan saat ini penanganan pecandu bukan dengan dipenjara tetapi direhabilitasi. Sebab pecandu adalah korban. "Jika dipenjara malah bisa ketagihan dan masalah tidak selesai," jelasnya.
Untuk itu harus dengan paradigma baru agar pecandu sembuh. Sebab rehabilitasi itulah hukumannya.
( Achmad Hussain / CN33 / SMNetwork
 
Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2014/06/09/205165
Read more

Selasa, 03 Juni 2014

Mari Ikuti SEMINAR NASIONAL

SEMINAR NASIONAL dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional.

Yukz mari. Ikuti seminar nasional.. Jangan sampe ketinggalan ya.. Catat waktu pelaksanaannya.. Klaten bersinar (bersih narkoba) Indonesia bebas narkoba 2015.
Say no to drugs n fight againts drugs!!!


cp : 0877-3471-9922
 

Read more

Jumat, 28 Maret 2014

Ini yang Terjadi pada Tubuh Saat Berhenti Merokok


KOMPAS.com - Berhenti merokok memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun dengan mengetahui dampak yang terjadi pada tubuh perokok setelah berhenti merokok mungkin akan membantu menguatkan niat tersebut.

Begitu berhenti merokok, tubuh akan segera mendapat perubahan positif. Setelah 20 menit berhenti merokok, denyut jantung akan kembali normal. Setelah dua jam, baik denyut jantung dan tekanan darah akan kembali normal. Ini karena kadar nikotin dalam sistem tubuh perlahan-lahan akan berkurang.

Antara dua hingga 12 jam setelah rokok terakhir, umumnya tubuh mulai memasuki masa-masa terberat karena ada dorongan yang kuat untuk kembali merokok. Keinginan untuk kembali memasukkan nikotin biasanya akan mencapai puncaknya sekitar tiga hari setelah berhenti.

Ini artinya, pada periode tersebut kemungkinan seseorang akan mengalami sakit kepala, mual, hingga mudah marah. Namun di saat ini juga, kadar karbonmonoksida di dalam darah akan turun hingga ke kisaran normal.

Setelah itu, jika perokok berhasil mengalahkan keinginannya untuk kembali merokok, banyak hal positif yang akan terjadi dalam tubuh. Seminggu hingga 9 minggu setelah berhenti, batuk, napas pendek, rasa terbakar di dada setelah beraktivitas fisik mulai berkurang.

Dilansir dari www.cancer.org, satu tahun setelah berhenti merokok, risiko penyakit jantung dan berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru akan berkurang hingga setengahnya.

Dan lima belas tahun setelah berhenti, perokok akan memiliki risiko penyakit jantung sama seperti orang yang tidak pernah merokok. Ini berarti, jika seseorang berhenti merokok sebelum usia 30 tahun, maka risiko kematiannya pun bisa ditekan menyamai orang yang non-perokok. Kecuali, jika mantan merokok kembali merokok dan mengalami kerusakan permanen di paru-paru yang memicu penyakit obstruksi paru-paru kronis.

Dokter spesialis paru Agus Dwi Susanto mengatakan, baik perokok ringan maupun berat sebetulnya menghadapi risiko yang sama. Sehingga berhenti merokok pun sebaiknya dilakukan oleh keduanya.

"Asap rokok persis asap knalpot, tidak peduli jenis rokoknya. Karena itu segeralah berhenti merokok," pungkas Agus.

Sumber : health.kompas.com
Read more

Jumat, 28 Februari 2014

Alasan dari Kebanyakan Orang Merokok


Kalau di jaman ane dulu tahun, pada umumnya remaja mulai berani merokok pada usia SMA, itupun sambil sembunyi-sembunyi. Termasuk TS sendiri dulu mulai merokok ketika SMA kelas 2, sampai akhirnya TS berhenti total merokok ketika masih kuliah dulu. Seperti alasan kebanyakan temen-temen yang lain ketika itu, alasan merokok di kala memasuki usia-usia puber itu adalah tak lain dan tak bukan sekedar motivasi secara psikologi ingin dianggap keren dan jantan. Sama juga seperti alasan ketika waktu itu nindik kuping pake anting, sering tawuran, gampang berantem, dll.. ujung-ujungnya ya pengen dianggap sebagai lelaki jantan sekaligus agar diterima di pergaulan. Sedangkan mereka yang menolak merokok diteriakin banci, bentuk dari bullying gan!


Contoh efek psikologi lelaki jantan pemberani yang ditawarkan iklan rokok


Nah berawal dari ngerokok niatnya sebagai tuntutan pergaulangan, terus secara psikologis pengen dianggap keren, pengen dianggap laki, pengen dianggap macho, pengen dianggap jantan.. akhirnya kebablasan jadi kebiasaan dan akhirnya ya berujung pada kecanduan rokok! Karena memang rokok punya kandungan-kandungan zat adiktif yang bersifat mencandu, seperti halnya zat adiktif yang terdapat pada narkoba. Hanya saja bedanya kalau pada rokok tingkat adiktifnya gak sampe level sakaw macem narkoba.. sekedar galau, kurang nyaman, bibir rasanya pahit, kurang tenang, dll. Nah kalau gak segera berhenti merokok, akhirnya umumnya keterusan sampai tua, bahkan sampai usia renta. Anak cucu pun bisa menirukan, bukan contoh yang baik!

Rokok dan narkoba sama-sama mudharat, sama-sama merusak mendzolimi tubuh agan. Bedanya, narkoba tingkat merusaknya lebih cepat. Kecepatan merusak antara narkoba dan rokok seperti perbandingan kecepatan motor 250 cc dengan 125 cc, namun keduanya akan sampai ke jurang finish yang sama, yaitu kehancuran!

Sumber : klik di sini
 
Read more

Sabtu, 08 Februari 2014

Antara HIV dan Janin


Bagaimana Bayi Tertular HIV?

HIV, virus penyebab AIDS, dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya yang baru lahir. Menurut WHO, sampai 30% bayi lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan tertular HIV kalau ibunya tidak memakai terapi antiretroviral (ART). Antara 5-20% lagi dapat tertular melalui air susu ibu (ASI).
Ibu dengan viral load HIV yang tinggi lebih mungkin menularkan infeksi pada bayinya. Kebanyakan ahli menganggap bahwa risiko penularan pada bayi sangat amat rendah bila viral load ibu di bawah 1000 waktu melahirkan. Walaupun janin dalam kandungan dapat terinfeksi, sebagian besar penularan terjadi waktu melahirkan atau melalui menyusui. Bayi lebih mungkin tertular jika persalinan berlanjut lama. Selama proses kelahiran, bayi dalam keadaan berisiko tertular oleh darah ibunya.

Harus diketahui bahwa seorang laki-laki dengan HIV tidak bisa menularkan virusnya langsung pada bayi. Namun laki-laki tersebut dapat menularkan pasangan perempuan waktu berhubungan seks untuk membuat anak.

Bila ibu baru tertular HIV pada akhir masa kehamilan, viral loadnya akan sangat tinggi waktu melahirkan anak, yang berarti risiko bayi terinfeksi HIV waktu lahir paling tinggi. Oleh karena itu pasangan laki-laki terinfeksi HIV harus menghindari hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan perempuan yang HIV-negatif waktu dia hamil.

Bila seorang ibu berperilaku berisiko penularan HIV selama kehamilan, sebaiknya dia dites HIV pada setiap trimester dan tiga bulan setelah berperilaku berisiko.

Bagaimana Penularan HIV dari Ibu-ke-Bayi Dapat Dicegah?

Bila ayah terinfeksi HIV: Penelitian baru menunjukkan bahwa air mani dari seorang laki-laki terinfeksi HIV dapat ‘dicuci’, untuk memisahkan spermanya dari cairan yang mengandung HIV. Dengan cara ini, sperma dapat dipakai untuk membuahkan perempuan tanpa risiko dia akan terinfeksi, Tindakan ini efektif tetapi sangat mahal. Catatan: bila ibu tidak terinfeksi, pasti bayi tidak terinfeksi. Status HIV bayi tidak terpengaruh oleh status HIV ayahnya.

Penggunaan ART: Risiko penularan sangat rendah bila ART dipakai oleh ibu waktu hamil dan melahirkan. Angka penularan hanya 1–2% bila ibu memakai ART.
Pedoman terbaru di Indonesia mengusulkan semua ibu hamil memakai ART. Bayi diberi satu AZT pas setelah lahir, dengan AZT diteruskan dua kali sehari selama enam minggu. Dengan cara ini, angka penularan dapat ditekan menjadi di bawah 2%.

Menjaga proses kelahiran tetap singkat waktunya: Semakin lama proses kelahiran, semakin besar risiko penularan. Bila ibu memakai ART dan mempunyai viral load di bawah 1000, risiko hampir nol. Ibu dengan viral load tinggi dapat mengurangi risiko dengan melahirkan melalui bedah Sesar.

Makanan bayi: Sampai 15% bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi. Risiko ini dapat dihindari jika bayinya diberi pengganti ASI (PASI, atau formula).
Namun jika PASI tidak diberi secara benar, risiko lain pada bayinya menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, usulan di Indonesia adalah agar semua bayi disusui secara eksklusif selama enam bulan pertama, kemudian diganti dengan formula secara eksklusif. Namun, jika PASI dapat diberi secara eksklusif (bayi tidak disusui sama sekali) dan aman terus-menerus, dengan formula dilarutkan dengan air bersih, dan ada biaya untuk memastikan formula dapat diberikan dalam jumlah yang cukup, pilihan untuk memberi PASI dapat dipertimbangkan.

Yang terburuk adalah campuran ASI dan PASI. Oleh karena itu, bila berencana untuk menyusui, harus ada kesepakatan dengan bidan sebelum lahir agar bayi langsung diberi pada ibunya untuk disusui, dan tidak diberi makanan atau minuman apa pun sebelumnya.

Bagaimana Kita Tahu Jika Bayi Terinfeksi?

Bayi diwarisi antibodi dari ibunya, untuk melindungi dia dalam bulan-bulan pertama kehidupannya, sebelum sistem kekebalan tubuh sudah berfungsi secara penuh. Hal itu berarti bayi yang terlahir oleh ibu HIV-positif pasti mempunyai antibodi terhadap HIV, apakah dia terinfeksi HIV atau tidak. Antibodi itu mulai hilang pada usia sembilan bulan, tetapi dapat tertahan sampai dengan usia 18 bulan.

Oleh karena itu, hasil tes HIV pada bayi tersebut pasti akan menunjukkan hasil positif, walau kemungkinan besar bayi ternyata tidak terinfeksi.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai masalah ini, dan cara untuk menghadapi, lihat Lembaran Informasi 613 mengenai Diagnosis HIV pada Bayi.

Bagaimana Mengenai Kesehatan Ibu?

Penelitian baru menunjukkan bahwa perempuan terinfeksi HIV yang hamil tidak menjadi lebih sakit dibandingkan yang tidak hamil. Ini berarti menjadi hamil tidak berpengaruh pada kesehatan perempuan HIV-positif. Justru ada bukti bahwa ibu HIV-positif menjadi lebih sehat setelah kehamilan.

Bila akan mulai ART, atau sudah memakai ART sebelum menjadi hamil, seorang ibu hamil sebaiknya mempertimbangkan beberapa masalah yang dapat terjadi terkait ART:
  • Jangan memakai ddI bersama dengan d4T dalam ART-nya karena kombinasi ini dapat menimbulkan asidosis laktik dengan angka tinggi.
  • Hindari penggunaan efavirenz selama trimester pertama kehamilan.
  • Bila jumlah CD4-nya lebih dari 250, jangan mulai memakai nevirapine.
Beberapa dokter mengusulkan perempuan tidak mulai ART pada trimester pertama kehamilan. Ada tiga alasan:
  • Risiko dosis dilewatkan akibat mual dan muntah selama awal kehamilan, dengan risiko mengembangkan resistansi terhadap obat yang dipakai.
  • Risiko obat mengakibatkan anak cacat lahir, yang tertinggi pada trimester pertama. Tidak ada bukti terjadi cacat lahir akibat penggunaan ARV, kecuali dengan efavirenz.
  • Ada kekhawatiran ART dapat meningkatkan risiko kelahiran dini atau bayi lahir dengan berat badan rendah.
Namun pedoman saat ini tidak mendukung penghentian ART oleh ibu hamil.
Jika kita terinfeksi HIV dan hamil, atau ingin hamil, sebaiknya kita bicara dengan dokter tentang pilihan menjaga kesehatan sendiri, dan mengurangi risiko bayi kita terinfeksi HIV atau cacat lahir.
Garis Dasar

Seorang perempuan terinfeksi HIV yang menjadi hamil harus memikirkan kesehatan dirinya sendiri dan kesehatan bayinya. Menjadi hamil tampaknya tidak memburukkan kesehatan ibu.
Risiko bayinya terinfeksi HIV waktu lahir dapat dikurangi menjadi sangat rendah jika ibu dan bayi yang baru lahir memakai terapi jangka pendek selama persalinan.

Risiko cacat lahir akibat penggunaan obat apa pun tertinggi jika obat dipakai pada trimester pertama. Jika kita memutuskan untuk berhenti memakai beberapa obat selama kehamilan, mungkin hal ini memburukkan kesehatannya. Seorang perempuan yang mempertimbangkan menjadi hamil sebaiknya membahas pilihan pengobatan dengan dokter.

Hal ini di perjelas oleh pakar kesehatan dalam Video ini.
 
 
Sumber : 
1. http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=611
2. http://www.youtube.com/watch?v=4tmcfG6WDew
Read more

Selasa, 21 Januari 2014

Estafet Kepemimpinan Tahun 2014

Selamat Kepada Semua Pembina dan Ketua Pengurus Ormawa yang telah di Lantik oleh Rektor Universitas Widya Dharma pada hari ini dan tak lupa juga selamat untuk Semua Pengurus UKM GRANAT UNWIDHA dengan susunan kepengurusan periode 2014 :


 
Ketua : Ridwan Sofi (Jala Samudra)
Wakil Ketua : Setiawan Tri N (Waone Noegroho)
 
Sekretaris Jenderal : Endang Sulestari
 
Sekretaris Umum 1 : Eni Susilowati (Eny S)
Sekretaris Umum 2 : Eni Febriani (Enie Febrieanie)
 
Bendahara Umum : Nieta Ernawati
 
BIRO P4GN
Kepala Biro P4GN : Sarjunianti (Juny Estele)
Sekretaris Biro : Lia Fajar Prasetyawati (Lia Prasetyawati)
Staff :
1. Hindro
2. Rohmat Basuki (Roham Abbas)
3. Joko Susila (Jocko Sangpemburu)
4. Yoga S Wibowo
 
BIDANG-BIDANG
 
1. Bidang Kesejahteraan dan Sosial
Kepala Bidang : Endri G Saputri (Endri GSaputri)
Sekretaris Bidang : Tri Putri Kurniawati
Anggota :
1. Zainal Rohmat A (Zainal Akbar)
2. Ida Lestari
3. Prayoga
 
2. Bidang Keorganisasian dan SDM
Kepala Bidang : Ihksan Perkasa (Chun)
Sekretaris Bidang : Aminusyafaroh A (Niya Azahra)
Anggota :
1. Elda Oktaviana
2. Esti Erfaresi
 
3. Bidang Komunikasi dan Informasi
Kepala Bidang : Rifmawati Maisaroh (Rifma Dema)
Sekretaris Bidang : Windy Fajrianti (Windy Pope)
Anggota :
1. Achmad Syahri (Alvian Achmad)
2. Tatik Rista Ningrum (Rista Chimoodtz)
3. Archadilla Pameilla Artha
4. Nurviyana
 
4. Bidang Hubungan Kelembagaan
Kepala Bidang : Tulus Adi C (Tulus Adi)
Sekretaris Bidang : Sri Indrawati (Iin Indrawati)
Anggota :
1. Hermawan
2. Dwi Hastuti
3. Niken O
4. Wahyu Tri Astuti
 
Semoga dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.
Salam Granat...Salam Granat...Salam Granat...

Sumber : Postingan akun facebook GRANAT RAYON UNWIDHA
Read more